Dilema Industri

Ironi Investasi Bojonegoro: Antara Potensi Migas dan Labirin Regulasi

oleh : -
Ironi Investasi Bojonegoro: Antara Potensi Migas dan Labirin Regulasi
Foto: ilustrasi

KABUPATEN BOJONEGORO (Beritakeadilan.com, Jawa Timur) -Di balik predikatnya sebagai lumbung energi nasional, Kabupaten Bojonegoro kini menghadapi tantangan besar yang mengancam citra ramah investasi. Deru mesin di beberapa titik industri perlahan mulai senyap, menyisakan tanda tanya besar mengenai efektivitas komunikasi publik dan jaminan kepastian hukum di daerah tersebut.

Fenomena pabrik yang telah berdiri tegak namun belum mampu beroperasi secara maksimal kini menjadi sorotan. Infrastruktur yang mulai terpapar korosi sebelum sempat memberikan kontribusi ekonomi bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan sinyal adanya hambatan sistemik dalam birokrasi dan relasi sosial.

Navigasi di Medan Sosial yang Rapuh
Bagi para pemodal, menanamkan investasi di daerah kaya sumber daya seperti Bojonegoro ibarat menavigasi kapal di tengah medan sosial yang dinamis. Namun, peran pemerintah daerah sebagai "pemandu" kini tengah diuji. Kurangnya kehadiran negara sebagai jembatan komunikasi antara korporasi dan masyarakat sering kali memicu gesekan kecil yang berujung pada krisis energi sosial.

Tanpa adanya proteksi kebijakan yang tegas, para investor merasa berada di posisi yang rentan. Kondisi ini dikhawatirkan dapat memicu sentimen negatif bagi calon pemodal lain yang hendak masuk ke wilayah Jawa Timur bagian barat ini.

Tantangan Legalitas dan Ego Sektoral
Satu hal yang paling krusial adalah persoalan kepastian hukum. Dalam beberapa kasus, investor kerap terjebak dalam perdebatan antar-lembaga terkait tafsir regulasi. Ketika bangunan fisik sudah siap dan tenaga kerja lokal telah direkrut, kendala administratif seringkali muncul sebagai penghalang di menit-menit terakhir.

Investor tidak membutuhkan karpet merah, melainkan kepastian bahwa sistem satu pintu benar-benar bebas dari praktik pungli dan solutif terhadap kendala lapangan.

Ketidakpastian ini menciptakan kesan adanya "ruang abu-abu" yang merugikan semua pihak. Jika ego sektoral tetap dikedepankan di atas kepentingan ekonomi publik, maka potensi diversifikasi ekonomi Bojonegoro dari sektor migas ke industri manufaktur terancam jalan di tempat.

Persimpangan Sejarah: Reformasi atau Stagnasi ?
Bojonegoro kini berada di persimpangan jalan. Ketergantungan pada fluktuasi harga migas harus segera diimbangi dengan sektor industri berkelanjutan. Namun, transisi ini mensyaratkan dua hal mutlak:

  1. Reformasi Birokrasi Radikal: Penyederhanaan aturan dan realisasi kawasan industri yang konkret.
  2. Keberanian Politik: Memotong rantai birokrasi yang panjang demi menciptakan iklim usaha yang sehat.

Pemerintah daerah perlu menyadari bahwa kepercayaan publik dan investor adalah aset yang sangat mahal. Membiarkan regulasi tetap dalam wilayah "remang-remang" tanpa solusi konkret sama saja dengan membiarkan peluang emas kemajuan daerah hilang begitu saja.

Langkah cepat dan transparan dari pemangku kebijakan sangat dinantikan untuk memastikan Bojonegoro tetap menjadi destinasi investasi yang menjanjikan, bukan sekadar catatan tentang potensi yang gagal dioptimalkan. (Iwan)

banner 400x130
banner 728x90